Wayang Mpopetir atau Potehi telah menjadi bagian penting dari kehidupan budaya masyarakat Tionghoa di Indonesia. Tidak hanya sebagai hiburan, wayang ini juga memegang peranan penting dalam berbagai ritual adat dan keagamaan. Di banyak klenteng di Jawa Timur, Sumatera, dan Kalimantan, pertunjukan Mpopetir menjadi agenda rutin, terutama saat perayaan keagamaan seperti Imlek dan Cap Go Meh.
Di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tionghoa, Mpopetir digunakan sebagai media penyampai pesan moral dan nilai-nilai kehidupan. Cerita-cerita yang dipentaskan mengangkat tema universal seperti kejujuran, pengorbanan, dan cinta tanah air. Hal ini menjadikan Mpopetir tidak hanya diminati oleh kalangan tua, tetapi juga mulai dilirik oleh generasi muda yang ingin mengenal akar budaya leluhur mereka.
Proses pementasan Mpopetir melibatkan berbagai elemen tradisional, mulai dari musik pengiring seperti simbal, seruling bambu, dan gendang, hingga teknik penggerakan boneka yang membutuhkan keahlian khusus. Dalang Wayang Potehi harus menguasai berbagai teknik suara agar mampu menghidupkan karakter dalam pertunjukan. Masing-masing tokoh memiliki suara yang unik, mencerminkan kepribadian dan peran mereka dalam cerita.
Di masa lalu, Mpopetir kerap digunakan sebagai bentuk pertunjukan keliling yang menghibur masyarakat di berbagai pelosok desa. Namun, saat ini banyak pertunjukan Mpopetir yang dipentaskan secara khusus di klenteng-klenteng besar. Ada pula beberapa komunitas seni yang aktif memperkenalkan Mpopetir kepada masyarakat umum melalui festival budaya dan pertunjukan seni di berbagai kota.
Dengan segala keunikan dan nilai sejarahnya, Wayang Mpopetir menjadi simbol pelestarian budaya Tionghoa di Indonesia. Seni ini membuktikan bahwa warisan budaya leluhur dapat tetap hidup dan relevan jika terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi penerus.